Hidup Sehat Ala Dokter


Posted in Coretan by masgandhul - Oct 19, 2009

Empat perempuan ini adalah dokter. Tentu saja, mereka memiliki pengetahuan tentang kesehatan yang lumayan banyak. Kira-kira, apakah pengetahuan mereka tentang kesehatan memengaruhi gaya hidup mereka? Jawabannya ada di cerita Asti, Wulan, Meme, dan Prima berikut ini.

Latar belakang kesehatan menjadikan kalian memperhitungkan asupan makanan?

Asti: Iya. Biasanya, saya bawa bekal nasi merah buat makan. Ke mana saja perginya pasti bawa. Soalnya, beras merah lebih sehat dan bagus untuk pencernaan. Kebiasaan ini baru sekitar sebulanan. Mungkin kurang ya. Dari dulu tahu beras merah bagus, tapi baru sekarang sempat. Selain itu, saya membatasi makan ayam. Soalnya, katanya ada yang disuntik steroid dan segala macamnya.

Wulan: Waktu saya masih tinggal bersama orang tua, saya masih sempat perhatikan makanan detail. Pakai beras merah. Terus lauknya dada ayam atau ikan yang di-fillet. Saya sama suami juga masih sempat ngegym. Tapi setahun terakhir, kami tinggal di rumah sendiri. Hilang semua kebiasaannya. Hehehe. Makan balik lagi ke nasi putih. Tapi, porsinya sedikit. Lebih banyak sayur, buah, dan susu kedelai.

Prima: Saya tidak pernah terlalu cerewet soal makanan. Selama komposisi makanan didominasi sayur dan buah, tidak masalah. Jadi, misalnya untuk makan siang, komposisi sayur dan buahnya harus 50-60 persen. Sisanya nasi, lauk, dan lain-lain. Kalau sayurnya kurang, saya kasih tambahan suplemen.

Meme: Saya juga tidak terlalu repot. Semua saya makan. Tapi, ya itu tadi, harus lengkap. Ada sayurnya, buah, lauk, sama nasi. Tapi, yang paling penting buat saya itu sarapan. Kalau tidak sempat makan siang, bisa diganti susu. Tapi kalau lupa sarapan, bisa-bisa saya pusing. Terus yang tidak boleh absen adalah minum yoghurt setiap malam. Biar pencernaan lancar.

Ada makanan yang dihindari nggak? Misalnya, camilan atau bahan lain?

Wulan: Apa ya, paling kulit ayam. Sama jajanan yang tidak sehat. Untuk anak-anak, saya tidak pernah kasih uang saku. Jadi, mereka tidak bisa jajan sembarangan. Tapi, mereka saya bekali, seperti roti, nasi, sama susu cokelat. Kalau masak, saya juga nggak pernah pakai MSG. Diganti gula sama garam saja.

Prima: Racun sama yang haram-haram. Hahaha. Saya ini semua dimakan. Yang berlemak pun tetap saya konsumsi. Soalnya, tubuh kita memerlukan lemak. Tapi, tidak banyak. Hanya 20 persen. Jadi, lemak tetap dimakan sedikit saja. Jangan sampai tidak sama sekali, nanti tidak sehat. Biasanya, orang yang menghindari lemak sama sekali jadi kurus, tapi tidak sehat.

Meme: Saya juga makan semua. Jajanan seperti cilok, pentol kecil itu, juga saya makan. Tapi, tidak pakai saus. Diganti kecap saja dan tidak sering-sering. Paling tidak dua minggu sekali. Kalau ingin ya makan. Jangan ditahan-tahan. Tidak baik. Hehehe.

Asti: Saya hati-hati. Jajanan yang tidak sehat ya tidak saya makan. Kalau lapar, saya nyemil pisang. Jadi, di rumah selalu ada pisang. Misalnya di kampus, teman-teman jajan cilok dan saya kepingin, paling saya minta satu. Nyicipin aja.

Gaya hidup seperti olahraga dan tidur cukup juga dipenuhi?

Prima: Terus terang, kalau sekolah begini, waktu tidur saya tidak cukup. Apalagi kalau jaga, bisa 36 jam. Mana bisa tidur cukup. Tapi, bagi saya, yang penting kualitasnya. Misalnya, di sela-sela jaga saya tidur satu jam saja, asal blek sek, pasti jadi segar lagi. Nanti, kalau ada waktu luang, tidurnya dibikin lebih. Ya, seperti utang. Kalau olahraga, saya juga nggak sempat. Tapi karena saya sekolah di rumah sakit yang gede banget itu, saya harus jalan terus keliling-keliling. Lumayanlah.

Wulan: Ya, seperti saya bilang tadi. Kalau dulu di rumah orang tua, ada pembantu. Saya masih sempat olahraga, tapi sekarang nggak. Tapi, jangan salah. Setiap hari saya nyuci mobil sendiri. Soalnya, saya tipe orang yang nggak pede kalau naik mobil kotor, belum nyapu, atau ngepel. Itu sudah termasuk olahraga. Hehehe. Soal tidur, mungkin waktunya tidak ideal minimal enam jam. Saya harus ngurus anak dan rumah, belum tugas sekolah. Paling tidak saya tidur empat jam. Tapi, yang penting berkualitas.

Asti: Wah, kalau dari dulu saya suka banget olahraga. Dari SMA sampai sekarang, saya aktif di taekwondo. Sekarang saya sudah sabuk merah strip dua. Minimal satu kali seminggu saya latihan. Soal tidur, karena saya belum terlalu sibuk, kecuali lagi giliran di bagian tertentu, tidurnya cukup. Malah lebih kali ya. Hehehe.

Meme: Saya juga sudah biasa olahraga dari dulu. Waktu SMP saya aktif di bulu tangkis malah. Sekarang agak kurang. Tapi, saya usahakan tetap jalan kaki atau joging di sekitar kompleks rumah. Kalau sibuk, hanya setiap Sabtu dan Minggu. Tapi kalau senggang, hampir setiap hari. Tidur sama kayak Asti, cukup.

Diambil dari:

-Senin, 19 Oktober 2009. jawapos.com-

  • Share/Bookmark

Oct
19

Sejarah nama INDONESIA


Posted in Coretan by masgandhul - Oct 4, 2009

Sebelum kedatangan bangsa Eropa
PADA zaman purba kepulauan tanah air kita disebut dengan aneka nama.

Dalam catatan bangsa Tionghoa kawasan kepulauan kita dinamai *Nan-hai* (Kepulauan Laut Selatan).Berbagai catatan kuno bangsa India menamai kepulauan ini *Dwipantara* Kepulauan Tanah Seberang), nama yang diturunkan dari kata Sansekerta *dwipa* (pulau) dan *antara* (luar, seberang).

Kisah Ramayana karya pujangga Valmiki yang termasyhur itu menceritakan pencarian terhadap Sinta, istri Rama yang diculik Ravana, sampai ke *Suwarnadwipa* (Pulau Emas, yaitu Sumatra sekarang) yang terletak di Kepulauan Dwipantara.

Bangsa Arab menyebut tanah air kita *Jaza’ir al-Jawi* (Kepulauan Jawa). Nama Latin untuk kemenyan adalah *benzoe*, berasal dari bahasa Arab *luban jawi*(kemenyan Jawa), sebab para pedagang Arab memperoleh kemenyan dari batang pohon *Styrax sumatrana* yang dahulu hanya tumbuh di Sumatra .

Sampai hari ini jemaah **** kita masih sering dipanggil “Jawa” oleh orang Arab. Bahkan orang Indonesia luar Jawa sekalipun. “Samathrah, Sholibis, Sundah, kulluh Jawi (Sumatra, Sulawesi , Sunda, semuanya Jawa)” kata seorang pedagang di Pasar Seng, Mekah.

Masa kedatangan Bangsa Eropa

Lalu tibalah zaman kedatangan orang Eropa ke Asia . Bangsa-bangsa Eropa yang pertama kali datang itu beranggapan bahwa Asia hanya terdiri dari Arab , Persia , India , dan Cina. Bagi mereka, daerah yang terbentang luas antara Persia dan Cina semuanya adalah Hindia”. Semenanjung Asia Selatan mereka sebut “Hindia Muka” dan daratan Asia Tenggara dinamai “Hindia Belakang”. Sedangkan tanah air kita memperoleh nama “Kepulauan Hindia” (*Indische Archipel, Indian Archipelago, l’Archipel Indien*) atau “Hindia Timur” *(Oost
Indie, East Indies , Indes Orientales)* . Nama lain yang juga dipakai adalah “Kepulauan Melayu” (*Maleische Archipel, Malay Archipelago , l’Archipel Malais*).

Ketika tanah air kita terjajah oleh bangsa Belanda, nama resmi yang digunakan adalah *Nederlandsch- Indie* (Hindia Belanda), sedangkan pemerintah pendudukan Jepang 1942-1945 memakai istilah *To-Indo* (Hindia Timur).

Berbagai Usulan Nama

Eduard Douwes Dekker (1820-1887), yang dikenal dengan nama samaran Multatuli, pernah mengusulkan nama yang spesifik untuk menyebutkan kepulauan tanah air kita, yaitu Insulinde*, yang artinya juga “Kepulauan Hindia” (bahasa Latin *insula* berarti pulau).

Tetapi rupanya nama *Insulinde* ini kurang populer. Bagi orang Bandung , *Insulinde* mungkin cuma dikenal sebagai nama toko buku yang pernah ada di Jalan Otista.

Pada tahun 1920-an, Ernest Francois Eugene Douwes Dekker (1879-1950), yang kita kenal sebagai Dr. Setiabudi (beliau adalah cucu dari adik Multatuli), memopulerkan suatu nama untuk tanah air kita yang tidak mengandung unsur kata “ India ”. Nama itu tiada lain adalah Nusantara, suatu istilah yang telah tenggelam berabad-abad lamanya.

Setiabudi mengambil nama itu dari Pararaton, naskah kuno zaman Majapahit yang ditemukan di Bali pada akhir abad ke-19 Lalu diterjemahkan oleh J.L.A. Brandes dan diterbitkan oleh Nicholaas Johannes Krom pada tahun 1920.

Namun perlu dicatat bahwa pengertian Nusantara yang diusulkan Setiabudi jauh berbeda dengan pengertian, nusantara zaman Majapahit. Pada masa Majapahit Nusantara digunakan untuk menyebutkan pulau-pulau di luar Jawa (antara dalam bahasa Sansekerta artinya luar, seberang) sebagai lawan dari *Jawadwipa*( Pulau Jawa).

Kita tentu pernah mendengar Sumpah Palapa dari Gajah Mada, *”Lamun huwus kalah nusantara, isun amukti palapa” *(Jika telah kalah pulau-pulau seberang, barulah saya menikmati istirahat). Oleh Dr. Setiabudi kata nusantara zaman Majapahit yang berkonotasi jahiliyah itu diberi pengertian yang nasionalistis.

Dengan mengambil kata Melayu asli antara, maka Nusantara kini memiliki arti yang baru yaitu “nusa di antara dua benua dan dua samudra”, sehingga Jawa pun termasuk dalam definisi nusantara yang modern.

Istilah nusantara dari Setiabudi ini dengan cepat menjadi populer penggunaannya sebagai alternatif dari nama Hindia Belanda. Sampai hari ini istilah nusantara tetap kita pakai untuk menyebutkan wilayah tanah air kita dari Sabang sampai Merauke. Tetapi nama resmi bangsa dan negara kita adalah Indonesia . Kini akan kita telusuri dari mana gerangan nama yang sukar bagi lidah Melayu ini muncul.

Nama Indonesia
Pada tahun 1847 di Singapura terbit sebuah majalah ilmiah tahunan, *Journal of the Indian Archipelago and Eastern Asia * (JIAEA), yang dikelola oleh James Richardson Logan (1819-1869), orang Skotlandia yang meraih sarjana hukum dari Universitas Edinburgh. Kemudian pada tahun 1849 seorang ahli etnologi bangsa Inggris, George Samuel Windsor Earl (1813-1865),menggabungkan diri sebagai redaksi majalah JIAEA.

Dalam JIAEA Volume IV tahun 1850, halaman 66-74, Earl menulis artikel *On the Leading Characteristics of the Papuan, Australian and Malay-Polynesian Nations*. Dalam artikelnya itu Earl menegaskan bahwa sudah tiba saatnya bagi penduduk Kepulauan Hindia atau Kepulauan Melayu untuk memiliki nama khas (*a distinctive name*), sebab nama Hindia Tidaklah tepat dan sering rancu dengan penyebutan India yang lain. Earl mengajukan dua pilihan nama: *Indunesia*atau *Malayunesia* (*nesos* dalam bahasa Yunani berarti Pulau).

Pada halaman 71 artikelnya itu tertulis: *… the inhabitants of the Indian Archipelago or malayan Archipelago would become respectively Indunesians or Malayunesians.*

Earl sendiri menyatakan memilih nama *Malayunesia* (Kepulauan Melayu) daripada *Indunesia* (Kepulauan Hindia), sebab *Malayunesia* sangat tepat untuk ras Melayu, sedangkan *Indunesia* bisa juga digunakan untuk Ceylon (Srilanka) dan Maldives (Maladewa). Lagi pula, kata Earl, bukankah bahasa Melayu dipakai di seluruh kepulauan ini? Dalam tulisannya itu Earl memang menggunakan istilah *Malayunesia* dan tidak memakai istilah *Indunesia*. Dalam JIAEA Volume IV itu juga, halaman 252-347, James Richardson Logan menulis artikel *The Ethnology of the Indian Archipelago. * Pada awal tulisannya, Logan pun menyatakan perlunya nama khas bagi kepulauan tanahair kita, sebab istilah “Indian Archipelago” terlalu panjang dan membingungkan.

Logan memungut nama *Indunesia* yang dibuang Earl, dan huruf u digantinya dengan huruf o agar ucapannya lebih baik. Maka lahirlah istilah Indonesia.

Untuk pertama kalinya kata Indonesia muncul di dunia dengan tercetak pada halaman 254 dalam tulisan Logan : *Mr. Earl suggests the ethnographical term Indunesian, but rejects it in favour of Malayunesian. I prefer the purely geographical term Indonesia , which is merely a shorter synonym for the Indian Islands or the Indian Archipelago. * Ketika mengusulkan nama “ Indonesia ” agaknya Logan tidak menyadari bahwa di kemudian hari nama itu akan menjadi nama bangsa dan negara yang jumlah penduduknya peringkat keempat terbesar di muka bumi!

Sejak saat itu Logan secara konsisten menggunakan nama “ Indonesia ” dalam tulisan-tulisan ilmiahnya, dan lambat laun pemakaian istilah ini menyebar di kalangan para ilmuwan bidang etnologi dan geografi. Pada tahun 1884 guru besar etnologi di Universitas Berlin yang bernama Adolf Bastian (1826-1905) menerbitkan buku *Indonesien oder die Inseln des Malayischen Archipel* sebanyak lima volume, yang memuat hasil penelitiannya ketika mengembara ke tanah air kita tahun 1864 sampai 1880.

Buku Bastian inilah yang memopulerkan istilah “Indonesia” di kalangan sarjana Belanda, sehingga sempat timbul anggapan bahwa istilah “Indonesia” itu ciptaan Bastian. Pendapat yang tidak benar itu, antara lain tercantum dalam *Encyclopedie van Nederlandsch-Indie*tahun 1918.

Padahal Bastian mengambil istilah “ Indonesia ” itu dari tulisan-tulisan Logan. Putra ibu pertiwi yang mula-mula menggunakan istilah “ Indonesia ” adalah Suwardi Suryaningrat (Ki Hajar Dewantara). Ketika di buang ke negeri Belanda tahun 1913 beliau mendirikan sebuah biro pers dengan nama *Indonesische Pers-bureau. *

Masa Kebangkitan Nasional
Makna politis

Pada dasawarsa 1920-an, nama “ Indonesia ” yang merupakan istilah ilmiah dalam etnologi dan geografi itu diambil alih oleh tokoh-tokoh pergerakan kemerdekaan tanah air kita, sehingga nama “ Indonesia ” akhirnya memiliki makna politis, yaitu identitas suatu bangsa yang memperjuangkan kemerdekaan! Akibatnya pemerintah Belanda mulai curiga dan waspada terhadap pemakaian kata ciptaan Logan itu. Pada tahun 1922 atas inisiatif Mohammad Hatta, seorang mahasiswa *Handels Hoogeschool* (Sekolah Tinggi Ekonomi) di Rotterdam , organisasi pelajar dan mahasiswa Hindia di Negeri Belanda (yang terbentuk tahun 1908 dengan nama *Indische Vereeniging* ) berubah nama menjadi *Indonesische Vereeniging* atau Perhimpoenan Indonesia . Majalah mereka, Hindia Poetra, berganti nama menjadi Indonesia Merdeka.

Bung Hatta menegaskan dalam tulisannya, “Negara Indonesia Merdeka yang akan datang (*de toekomstige vrije Indonesische staat*) mustahil disebut “Hindia Belanda”. Juga tidak “Hindia” saja, sebab dapat menimbulkan kekeliruan dengan India yang asli.

Bagi kami nama Indonesia menyatakan suatu tujuan politik (*een politiek doel*), karena melambangkan dan mencita-citakan suatu tanah air di masa depan, dan untuk mewujudkannya tiap orang Indonesia (*Indonesier*) akan berusaha dengan segala tenaga dan kemampuannya. “ Sementara itu, di tanah air Dr. Sutomo mendirikan *Indonesische Studie Club*pada tahun 1924. Tahun itu juga Perserikatan Komunis Hindia berganti nama menjadi Partai Komunis Indonesia (PKI). Lalu pada tahun 1925 *Jong Islamieten Bond* membentuk kepanduan *Nationaal Indonesische Padvinderij* (Natipij).

Itulah tiga organisasi di tanah air yang mula-mula menggunakan nama “ Indonesia ”. Akhirnya nama “ Indonesia ” dinobatkan sebagai nama tanah air, bangsa dan bahasa kita pada Kerapatan Pemoeda-Pemoedi Indonesia tanggal 28 Oktober 1928, yang kini kita sebut Sumpah Pemuda. Pada bulan Agustus 1939 tiga orang anggota *Volksraad* (Dewan Rakyat; DPR zaman Belanda), Muhammad Husni Thamrin, Wiwoho Purbohadidjojo, dan Sutardji Kartohadikusumo, mengajukan mosi kepada Pemerintah Belanda agar nama “Indonesia” diresmikan sebagai pengganti nama “Nederlandsch- Indie”.

Tetapi Belanda keras kepala sehingga mosi ini ditolak mentah-mentah. Maka kehendak Allah pun berlaku. Dengan jatuhnya tanah air kita ke tangan Jepang pada tanggal 8 Maret 1942, lenyaplah nama “Hindia Belanda” untuk selama-lamanya. Lalu pada tanggal 17 Agustus 1945, atas berkat rahmat Allah Yang Mahakuasa, lahirlah Republik Indonesia.

  • Share/Bookmark

Oct
4

Mobilisasi besar-besaran


Posted in Coretan by masgandhul - Oct 4, 2009

Karena baru melakukan re-vitalisasi blog dengan berpindah dari lifetype menjadi wordpress, maka dengan sabar kepada seluruh penggemar untuk menahan diri sampai dengan minggu depan, karena sementara hanya postingan ini yang akan terlihat sampai minggu depan.

  • Share/Bookmark

Oct
4